Rabu, 23 Desember 2009

PROPOSAL

KREATIVITAS DOSEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

(PENELITIAN TINDAKAN DOSEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR)

PROPOSAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Penelitian

Oleh :

AMARULLAH

NPM : 20207094

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN AKUNTANSI

DEPOK

2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia karena dengan belajar akan dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya yang lain. Apalagi di jaman sekarang persaingan hidup semakin tinggi maka mau tak mau kita harus mempersiapkan diri agar mempunyai modal untuk dapat bersaing, salah satu persiapannya adalah dengan belajar. Maka tak heran bila pemerintah mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun yang artinya pendidikan formal minimal yang wajib diikuti oleh penduduk Indonesia adalah sampai ke jenjang sembilan tahun. Pendidikan formal salah satu modal yang harus kita miliki bila kita ingin mencapai status sosial yang lebih baik di masyarakat. Tentu saja itu tak lepas dari kemauan kita untuk belajar

Belajar dalam pendidikan formal pada masa sekarang tentu berbeda dengan di masa lalu, jika di masa lalu cukup hanya dengan diam, mendengar, mengucapkan dan menulis saja tetapi sekarang begitu banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh seorang pelajar, aktivitas yang berhubungan mencari, mempraktekkan, mengembangkan pengetahuan yang ia dapati bahkan mempelajari pengetahuan baru dari lingkungan sekitarnya, apalagi didukung oleh sarana prasarana yang menunjang akibat majunya perkembangan teknologi dan komunikasi. Sebagai contoh : sering kita melihat seorang pelajar ketika bel pulang berbunyi yang ia lakukan bukan langsung pulang ke rumahnya melainkan singgah dahulu di rental komputer, entah itu bermain permainan kesukaannya, membuka situs internet ataupun sekedar menonton teman atau orang yang sedang bermain komputer. Atau ketika dalam perjalanan pulang kebetulan jalan yang ia lalui sedang terjadi sesuatu peristiwa misalkan terjadi kebakaran, tidak lama kemudian datang mobil pemadam kebakaran untuk menolong memadamkan kobaran api, tanpa disadarinya dia mendapat pengetahuan dan jadi tahu bagaimana kondisi masyarakat yang tinggal dan berada di lokasi kejadian, ketika pulang pasti dengan semangat ia akan bercerita kepada orang tua, saudara kandung, teman-teman bahkan esok harinya ketik ia datang ke sekolah dan bertemu dengan teman-teman pasti peristiwa kemarin yang dilihatnya akan diceritakannya. Atau bila ia harus melewati pasar maka ia akan tahu aktivitas jual beli yaitu adanya pedagang yang membawa barang dagangan dan pembeli akan membeli barang dagangan. Atau kita sering melihat beberapa pelajar yang senang singgah dan membaca buku di toko buku ketika pulang sekolah. Atau juga pengetahuan yang ia dapati dari membaca majalah, tabloid, suat kabar dan media cetak lainnya yang bila suatu ketika lingkungan sekitarnya membicarkan sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang pernah ia baca maka secara spontan ia akan ikut berbicara bahkan langsung menyumbang pengetahuan kepada teman-temannya tanpa diminta.

Selain media cetak masih ada media elektronik yang dapat menambah pengetahuan mahasiswa, tentu saja tayangan yang bersifat positf. Sebagai contoh tayangan berita, selain menambah pengetahuannya namun dapat juga menambah pembendaharaan kosa katanya, maka tak heran bila seorang murid sekolah dasar pada masa sekarang dapat menguasai kosa kata yang cukup banyak dibanding pelajar dari sekolah di masa lalu.

Hal ini tentu saja menjadi sebuah tantangan bagi pengajar. Bila di masa lalu seorang murid datang ke sekolah dapat duduk dengan tertib mendengarkan penjelasan materi pelajaran yang diberikan oleh guru sampai jam pelajaran usai namun tidak demikian dengan keadaan sekarang. Sebagai contoh di sekolah dasar, siswa datang ke kelas duduk dengan tertib, ketika guru datang dan memberikan materi pelajaran, dalam beberapa menit ia masih mampu menyimak dengan penuh perhatian tapi di menit kemudian akan mulai tampak kejenuhannya yang ia nyatakan dalam berbagai tingkah lakunya, entah itu mengganggu teman sebangkunya, atau mengobrol dengan teman yang ada di dekatnya atau mengalihkan perhatian kepada hal yang dapat menarik perhatiannya (misanya memperhatikan alat tulis teman sebangkunya atau menggambar ataupun hal lainnya yang menurutnya lebih menarik dan mengundang perhatiannya), atau juga rasa kantuk yang mulai dirasakannya. Pemandangan seperti itu sering kita jumpai terutama pada proses pembelajaran yang suasana pembelajarannya sama, dimana siswa diharuskan duduk, diam, mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dan mengerjakan tugas atau soal yang diberikan guru kepadanya, padahal kita tahu duduk diam di tempat terbatas merupakan hukuman terberat bagi siswa karena indera yang bekerja hanyalah indera penglihatan dan pendengaran, namun inilah yang sering kita lakukan kepada siswa kita di kelas. Oleh karena itu tak heran bila materi pelajaran yang disampaikan oleh guru hanya sedikit yang dapat diserap oleh siswa bahkan hanya sepintas. Walaupun siswa duduk di bangku kelas dan mendengar penjelasan materi pelajaran dari guru. Apalagi disaat pikiran dan hayalnya melayang, ketika ia memeperhatikan kelasnya yang tidak mampu membangkitkan atau mengembalikan semangat belajarnya pastilah akan timbul kejenuhan yang ia nyatakan pada tindakannya itu dan sering dinilai oleh guru sebagai ketidakpatuhan, pada akhirnya guru memberikan teguran atau hukuman terhadap perbuatan siswanya tersebut.

Jika hal itu selalu terjadi maka tak heran bila ada bebeapa siswa yang tidak suka akan belajar di sekolah. Meski ia terpaksa berada di sekolah, ia pasti akan berpikir dan berhayal tentang aktivitas di luar sekolah yang jauh lebih menarik dan menyenangkan untuknya dimana ia bebas mengekspresikan dirinya bahkan timbul dorongan ingin mengetahui dan mempelajarinya. Keinginan itu muncul karena ia merasa tidak ada beban bahkan tidak adanya keterpaksaan yang mengharuskan ia untuk meraih nilai sempurna apalagi didukung oleh keadaan dan kondisi yang membuatnya merasa nyaman dan senang sehingga dia tidak perduli dengan berapapun banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk melakukan kegiatan tersebut dan tantangan yang harus ia hadapi. Berbeda halnya dengan aktivitas di kelas, dimana ia merasa sangat tertekan, jenuh bahkan yang lebih parah tidak adanya minat terhadap belajar di sekolah. Dalam pemikiran siswa sudah tergambar dan memberikan definisi belajar di kelas yaitu kegiatan datang, duduk, diam, mendengarkan penjelasan materi pelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan guru padanya. Sehingga tak heran jika ada siswa yang lebih tertarik dan menaruh minat terhadap materi yang ditawarkan dan diberikan oleh guru-guru lain di luar sana kepada mereka. Sebagai contoh ada anak yang merasa senang bermain bola meski ia harus rela bajunya menjadi kotor dan dimarahi oleh ibunya ketimbang duduk diam di kelas mendengarkan penjelasan materi yang diberikan oleh guru, atau ada anak yang rela duduk berjam-jam di depan komputer memainkan program komputer atau membuka situs internet walau ia harus bersusah payah untuk dapat mengerti dan memainkannya ketimbang duduk di bangku kelas mengerjakan soal atau tugas yang telah diberikan guru kepadanya, atau ada anak yang rela pergi main di pagi hari dan pulang sore hari ketimbang bangun pagi pergi ke sekolah dan sesampainya di sekolah ia masih menanyakan kepada temannya jam berapa sekolah usai, atau ada anak yang senang pergi ke toko buku hanya untuk membaca buku walau ia harus rela berjalan di bawah terik matahari ketimbang duduk diam di kelas dan membaca buku pelajaran, atau ada siswa ketika ditanya tentang lebih senang berada di kelas atau bermain di luar maka ia menjawab bermain di luar ataupun ada siswa yang tahan harus dimusuhi oleh temannya ketika ia bermain di luar sana daripada menerima hukuman atau teguran guru terhadap sikap atau perbuatannya yang melanggar tata tertib kelas dan sebagainya.

Suka atau tidak suka, kenyataannya kita banyak mendapati hal-hal tersebut pada masa sekarang. Guru yang merasa kecewa terhadap hasil pembelajaran siswa di kelas dan siswa yang merasa jenuh dan bosan dalam belajar di kelas, jika hal ini selalu berlangsung tanpa adanya jalan keluar maka tak heran akan selalu menimbulkan kekecewaan baik bagi guru ataupun siswa. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa selain bapak dan ibu guru, ada banyak guru lain bagi siswa kita. Teman dalam kelompok, tetangga, budaya, koran, majalah, tabloid, radio, televisi, internet, dan lain sebagainya adalah juga guru bagi siswa kita. Bisa jadi mereka lebih menarik perhatian dan minat siswa kita dan lebih berhasil dalam memberikan materi pelajaran kepada mereka tanpa kita sadari siswa kita makin tambah pengetahuannya.sering kita dapati saat seorang guru akan menerangkan materi pelajaran yang baru, ketika diadakan tanya jawab untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran yang akan diberikan kepadanya ternyata siswa tersebut sudah mengetahui lebih banyak. Atau sering kita dapati siswa lebih pandai daam menggunakan bahasa asing atau komputer, padahal di sekolah tidak diajarkan. Oleh karena itu bila seorang guru merasa cukup hanya dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa mau belajar untuk mengembangkan kemampuannya itu maka sudah barang tentu ia akan memberikan kesan kelas yang jenuh dan membosankan kepada siswanya. Apalagi memberikan pembelajaran di kelas, bila tidak direncanakan dan selalu sama dari waktu ke waktu pastilah menimbulkan kejenuhan dan kebosanan bagi siswa yang biasanya kejenuhan dan kebosanan itu tidak dapat siswa nyatakan melalui kata-kata namun pada tindakan dan sikapnya pada saat proses belajar dan pembelajaran berlangsung, pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Seperti yang telah kita ketahui, belajar bukan seperti sedang menonton sebuah pertandingan, dimana siswa hanya duduk, diam, mengingat-ingat materi dan selalu menjawab pertanyaan atau mengomentari materi baik lisan maupun tulisan. Hal itu bila dilakukan bisa menimbulkan kejenuhan dan kebosanan bagi siswa karena belajar yang lebih baik adalah mengalami langsung apa yang sedang dipelajarinya sebab akan mengaktifkan lebih banyak inderanya. Dengan demikian anak merasa tidak bosan dan jenuh belajar di dalam kelas karena banyak aktivitas yang dapat ia lakukan sehingga dia akan merasa senang sehingga timbullah motivasi dan minatnya apalagi merasa nyaman dapat mengekspresikan seluruh kemampuannya.

Semakin majunya jaman maka semakin tinggi tingkat tantangan bagi seorang guru dalam menghapus kesan kelas yang menjenuhkan dan membosankan bagi murid yang belajar di kelas. Apalagi di luar sana guru-guru lain bagi siswa kita mengalami kemajuan setiap waktunya, oleh sebab itu di sinilah sangat diperlukan kreativitas guru yang dapat membuat siswa merasa senang dan nyaman belajar di kelas serta mampu membuat siswa termotivasi dalam mengekspresikan seluruh kemampuannya. Dengan adanya krativitas guru, contoh saat siswa merasa jenuh dan melayangkan pandangannya ke seluruh kelas padahal yang dapat menarik perhatiannya maka siswa tersebut mendapati sesuatu yang dapat menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajarnya kembali. Atau ketika ia merasa kesulitan saat belajar di kelas, ia dapat solusi yang diberikan oleh gurunya, atau juga ia mendapati suasana hatinya yang sama saat belajar dan ketika ia bermain. Akhirnya siswa merasa sangat senang bahkan merindukan saat-saat belajar di kelas bersama guru dan teman-temannya.

Proses belajar dan pembelajaran yang berlangsung di kelas jika dipengaruhi oleh kreativitas guru maka akan menampilkan suasana kegiatan belajar dan pembelajaran yang hidup. Sejauh guru memasuki dunia siswa, sejauh itu pula pengaruh yang guru miliki di dalam kehidupan mereka.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah yang dimaksud dengan peningkatan hasil belajar mahasiswa ?

2. Apa yang dapat dilakukan dosen untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa ?

3. Apakah penyebab nilai mahasiswa masih rendah ?

4. Apakah yang dapat dilakukan oleh dosen dalam meningkatkan nilai mahasiswa ?

5. Apakah latar belakang pendidikan dosen mempengaruhi cara dosen dalam memberikan variasi metode mengajar ?

6. Apakah kinerja dosen untuk meningkatkan kualitas pendidikan ?

7. Apakah ada cara-cara yang efektif dapat dilakukan dalam menerapkan kreativitas dosen ?

8. Apakah ada sarana khusus yang dapat meningkatkan kreativitas dosen ?

9. Apakah nilai mahasiswa dapat ditingkatkan dengan adanya kreativitas dosen ?

C. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pengkajian teoritisnya, penulis membatasi permasalahan pada hubungan kreativitas dosen menurut persepsi mahasiswa dalam meningkatkan hasil belajar baik dilingkungan kampus ataupun diluar lingkungan kampus.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan kreativitas dosen menurut persepsi mahasiswa dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa..

E. Tujuan Penelitian

1. Meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

2. Meningkatkan motivasi mahasiswa dalam belajar.

3. Meningkatkan kualitas belajar mahasiswa.

F. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Memahami cara penerapan kreativitas dosen.

2. Bagi mahasiswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan suatu acuan dalam meningkatkan hasil belajar.

3. Bagi dosen, dengan adanya kreativitas maka proses belajar mengajar akan lebih mudah.

4. Bagi universitas, penerapan kreativitas dosen dapat dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan nilai mahasiswanya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali Abdul Halim Mahmud. 1998. Kiat Sukses dalam Belajar. Jakarta: Studia Press

2. Ali Imron. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Pustaka Jaya

3. Bobbi De Porter, Mike Hernachki. 2003. Quantum Learning. Bandung : Kaifa.

4. Bobbi De Porter, Mark Reardon dan Sarah Singer-Nourie. Quantum Teaching.
Bandung : Kaifa.

5. Lilis Setiawati dan Moh. Uzer Usman. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar